Pure dalem kampung warga indah jaya

pure dalem kampung warga indah jaya

warga indah jaya 10 april 2018 :kali kami akan mebagikan tentang pure dalem kampung warga indah jaya dan beberapa sejarang tetang pure dalem dari bali yang akan kami posting pada hari ini. baik kita langsu saja tentang pure dalem.

Pura berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti benteng yang berhubungan dengan kerajaan. Namun di Indonesia, khususnya di Bali, pura dikonotasikan sebagai tempat ibadah. Untuk pusat kerajaan, cenderung disebut puri.Saking banyaknya pura yang ada , maka Bali dijuluki Pulau Seribu Pura. Selain banyak jumlahnya, pura juga beragam jenisnya. Salah satu jenis atau golongannya adalah pura Kahyangan Tiga. Sesuai penyebutannya, pura Kahyangan Tiga terdiri atas tiga pura, yakni Pura Desa, Puseh, dan Dalem. Sesuai konsep Tri Murti, Pura Desa adalah stana Tuhan yang bermanifastasi sebagai Dewa Brahma dengan kekuatan penciptaan. Selanjutnya Pura Puseh sebagai stana Dewa Wisnu dengan kuasa pemelihara. Sementara Pura Dalem merupakan stana Dewa Siwa dengan kuasa pelebur.

pure dalem kampung warga indah jaya

Pura Dalem adalah berfungsi untuk pemujaan kepada Dewa Siwa sebagai bagian dari Kahyangan Tiga yang terdapat di setiap desa adat di Bali maupun luar pulau bali karena banyak umat hindu dari bali yang bermigrasi keluar pulau bali.Dalam sejarahnya, dahulu disebutkan Pura Dalem merupakan pemujaan kepada Dewi Durga sebagai Dewa utama dari Sekte Bhairawa, sehingga Pura Dalem ini sangat erat kaitannya dengan setra dan Pura Mrajapati sebagai tempat pemujaan alam kosmis untuk menetralisir kekuatan positif dan negatif.

Umat ​​Hindu di kampung warga indah jaya percaya bahwa orang yang mati sebelum masuk sorga, mereka dibawa ke Pura Dalem Puri yang diyakini secara niskala dalam pura tersebut terdapat sebuah kawah yang disebut Candra Goh, jembatan yang disebut Titi ugal-agil dan Tegal Penangsaran serta hutan pohon kayu curiga yang ada dalam pura dalem ini.
Jajaran Pelinggih di pura dalem ini sebgaimana disebutkan dalam artikel esensi & konsepsi pura sebagai tempat suci di bali, pelinggih – pelinggih yang ada di pura dalem disebutkan : Gedong Linggih Sthana Dewi Durgha (Sakti Siwa).

pure dalem kampung warga indah jaya

Linggih Sthana Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, (gelar dari “banaspatiraja”; Lontar Kanda Pat Sari)Lingga Sthana Sedahan Penglurah (Tepas Ratu Gede`Mecaling),Bedogol Apit Lawang :Linggih Sthana Sang Bhuta Diyu, dan Linggih Sthana Sang Bhuta Garwa.Pada Panghulun Setra dibangun Pelinggih Prajapati, berbentuk Padma dan sebuah bebaturan Linggih Sedahan Setra.

pure dalem kampung warga indah jaya

Sejarah Pura Dalem Balingkang berdasarkan Purana Dalem Balingkang, yang mana kerajaan di Bali Dwipa saat itu diperintah oleh seorang raja bernama Sri Maharaja Kesari Warmadewa. Beliau memerintah sekitar tahun 835 Çaka atau 913 Masehi dengan bijaksana, terpuji seperti juga yang tercantum dalam prasasti Blanjong, kemudian berturur-turut digantikan oleh keturunan beliau seperti Sri Ugrasena, kemudian Sri Candrabhayasingha Warmadewa, beliau inilah yang membangun tempat pemujaan Er Mpul di Tampaksiring, yang sekarang ini dijadikan salah satu objek wisata di Bali yang sering dikunjugi wisatawan saat perjalanan tour, dan dijadikan warga sebagai tempat persembahyangan dan melakukan penyucian jasmani dan rohani. Setelah beliau wafat digantikan oleh keturunan beliau yang bernama Sri Dharma Udyana Warma Dewa.

Sejarah Pura Dalem Balingkang ini memang cukup panjang, bisa terbilang peninggalan pura pada masa kuno yang suda tua. Selanjutnya dalam sejarahnya, raja Sri Dharma Udyana Warma Dewa wafat di tahun 993 atau 1011, beliau meninggalkan 3 putra, pucuk pemerintahan digantikan oleh Haji Sri Dharma Wangsa Wardhana Marakata Pangkaja Sthana Uttunggadewa, setelah beliau meninggal digantikan oleh adik beliau Sri Haji Anak Wungsu, karena sudah takdir beliau berpulag ke swargaloka, kemudian beliau dicandikan di Gunung Kawi , yang juga sekarang ini dijadikan sebagai objek wisata di Bali, yang mana agent perjalanan mengikut sertakan paket tour untuk berkunjung tempat-tempat bersejarah seperti Gunung Kawi ini.

Sepeninggal Sri Haji Anak Wangsu, kerajaan di Bali hampir kacau balau, silih berganti digantikan oleh keturunan beliau untuk naik tahta dan memerintah Bali Dwipa, akhirnya sampailah pada masa pemerintahan Sri Haji Jayapangus, pada saat inilah Dalem Balinkang itu muncul. Sri Haji Jayapangus memerintah Bali Dwipa sekitar tahun 1053 Çaka (1131 M), beliau memiliki permaisuri bergelar Sri Parameswari Induja Ketana berasal dari Danau Batur , sang permaisuri sangat bijak dan menjadi putri utama. Pada pemerintahannya didampingi oleh dua penasehat yaitu Mpu Siwa Lim dan Mpu Siwa Gandhu.

Diceritakan juga Ada seorang saudagar dari Tionghoa bernama Kang terdampar dan sampai akhirnya di Batur , yang mempunyai putri bernama Kang Cing We, kecantikan Kang Cing We ini terdengar juga oleh Sri Haji Jayapangus dan keinginan beliau untuk memperistri saudagar ini sangat besar, walaupun oleh penasehatnya yaitu Mpu Siwa Gandhu sudah dinasehati agar keinginan beliau dibatalkan karena adanya perbedaan keyakinan, raja beragam Hindu sedangkan putri beragama Budha. Keinginan Baginda sudah bulat untuk memperistri sang putri, sehingga beliau marah kepada sang Mpu dan tidak bisa mengikuti nasehatnya, dan saat itu juga Mpu Siwa Gandhu tidak lagi menjadi panasehat baginda raja.

Raja sudah diliputi kasmaran, sehingga dengan segera beliau melakukan upacara pernikahan, para rohaniawan Hindu dan Budah hadir, tak terkirakan banyaknya yang menghadiri acara pernikahan beliau. Sang saudagar merelakan putrinya dipersunting raja dan mempersembahkan 2 keping uang keping sebgaia bekal sang putri dalam mengabdikan diri kepada sang raja, dan minta agar raja menganugrahkan uang kepeng tersebut kepada seluruh rakyat beliau di Bali Dwipa, itu sebabnya sampai sekarang, sarana uang kepeng ini digunakan sebagai sarana perlengkapan persembahyangan di Bali.

About wargaindahjaya 125 Articles
kampung warga indah jaya dioperatori oleh I KETUT ASMARA JAYA

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan