Mekemit di pure atau begadang di pure menjelang ritual melasti

Warga indah jaya 24 maret 2018 : pada tanggal 13 maret untuk seluruh umat hindu kampung warga indah jaya telah melakukan kegiatan yang sudah dilakukan sejak dulu yaitu mekemit atau yang paling di kenal dengan bergadang tapi untuk yang kuat bergadang saja. kegiatan bertuan ini biasa di lakukan setelah sembahyang pada malam rabu 13 maret kemarin.

Dan ini masih menyakut tentang hari raya nyepi dan ritual melasti atau penyucian diri, Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Upacara Melasti dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta).

UPACARA Melasti umat hindu WIJ di sungain cakat raya?(doc kamp-foto by komang asmara jaye)

Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya). Benda-benda tersebut diarak dan diusung mengelilingi desa. Hal ini dimaksudkan untuk menyucikan desa. Dalam upacara ini, masyarakat dibentuk berkelompok ke sumber-sumber air seperti danau dan laut. Satu kelompok berasal dari wilayah atau desa yang sama.

sembahyang pada 13 maret 2018 di pure puseh kampung warga indah jaya

Selruh peserta mengenakan baju putih. Para pemangku berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh warga yang datang serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud mensucian. Pelaksaaan upacara Melasti dilengkapi dengan berbagai sesajian sebagai simbol Trimurti, 3 dewa dalam Agama Hindu, yaitu Wisnu, Siwa, dan Brahma, serta Jumpana, singgasana Dewa Brahma.

Untuk menyambut Hari Raya Nyepi, pelaksanaan upacara Melasti ini di bagi berdasarkan wilayah, di Ibukota provinsi dilakukan Upacara Tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Upacara ini dilaksanakan agar umat Hindu diberi kekuatan dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi.

UPACARA Melasti umat hindu WIJ di sungain cakat raya?(doc kamp-foto by komang asmara jaye)

Awal dari tahun “Caka” – Tahun Baru Hindu Bali — dirayakan oleh umat Hindu selama enam hari, dengan pawai ogoh-ogoh setelah matahari terbenam di hari kedua dan Nyepi, hari keheningan, jatuh di hari ketiga.
Nyepi adalah hari dimana umat Hindu Bali menetapkan dirinya untuk lebih dekat kepada Tuhan (Hyang Widi Wasa) melalui sembahyang, puasa dan meditasi dengan tambahan introspeksi diri, untuk mengevalusi nilai pribadi seperti cinta, kebenaran, kesabaran, kebaikan, dan kemurahan hati.

Perayaan keagamaan ini lebih besar dan meriah dalam satu tahun dibandingkan yang lain. Ada mitos bahwa setelah perayaan yang meriah dan gegap gempita selama hari 1 dan 2, pulau ini bersembunyi untuk melindungi diridari roh jahat, menipu mereka agar percaya bahwa Bali, terselimuti ketenangan dan sunyi, adalah pulau tak berpenghuni. Mitos ini berasal dari jaman legenda mengenai roh jahat, Dewa-dewa, pahlawan dan penyihir.

Sehari setelah Nyepi, dikenal sebagai Ngembak Geni, aktifitas kembali seperti sedia kala, keluarga dan teman berkumpul untuk saling memaafkan satu sama lain, dan untuk melakukan ritual ibadah bersama. Meski pun Nyepi merupakan perayaan Hindu, penduduk non-Hindu Bali juga menjalaninya, sesuai keadaan mereka sebagai sesama warga Bali.

UPACARA Melasti umat hindu WIJ di sungain cakat raya?(doc kamp-foto by komang asmara jaye)

Hari Nyepi seperti sebagian besar festival keagamaan dan hari suci Bali selalu ditandai berdasarkan penanggalan Bali (Caka atau Saka) Satu tahun penuh dalam penanggalan Bali terdiri dari 12 sasih (bulan Bali). Tiap bulan (sasih) terdiri dari 35 hari yang biasanya adalah siklus penuh bulan baru (bulan mati atau Tilem) dan satu bulan purnama (Purnama).

Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

sembahyang pada 13 maret 2018 di pure puseh kampung warga indah jaya pada malam hari para laki-laki umat hidu datang kepura untuk mekemit atau berjaga

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

mekemit 13 maret 2018 umat hindu kampung warga indah jaya di pure puseh

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

About wargaindahjaya 125 Articles
kampung warga indah jaya dioperatori oleh I KETUT ASMARA JAYA

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan